Berita

Lasiyo, Sang “Profesor” Pisang dari Bantul, Berbagi Ilmu Hingga ke Italia

Kamis Wage, 1 September 2016 15:29 WIB 2720

foto
Lasiyo Syaifudin, petani pisang dan Kelompok UPFMA di Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo

Lasiyo Syaifudin, yang akrab dipanggil dengan sebutan mbah Lasiyo, seorang petani pembudidaya tanaman pisang di Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, akan mengikuti pertemuan Salone del Gustro Terra Madre (SGTM) di Turin, Italia bulan September 2016 ini. SGTM merupakan suatu even internasional yang didedikasikan pada pangan dan gastronomi, mempertemukan semua orang dari seluruh dunia yang bersahabat dengan lingkungan untuk mewujudkan terciptanya keharmonisan dunia yang mandiri. Dalam usaha pertaniannya, kelompok tani di Dusun Ponggok berupaya melestarikan sekitar 12 macam jenis pisang dengan menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan karena memakai agen hayati dalam melindungi dan memperkuat tanaman pisang.

Di Italia, Mbah Lasiyo akan mempresentasikan budidaya pisang lokal, cara bercocok tanam, hingga pembuatan pupuk organik. Beliau diberangkatkan oleh kelompok Slow Food Yogyakarta, suatu lembaga yang mengajak masyarakat untuk mempertahankan dan melestarikan budaya dan produk makanan asli daerah.

Mbah Lasiyo adalah pengurus salah satu UP FMA binaan provinsi dan kabupaten yang telah mampu menangkarkan benih dan mengolah produk pisang sampai dengan pemasarannya. Beberapa prestasi yang pernah diraihnya antara lain  Peringkat II Petani Teladan DIY Tahun 2010, Petani Berprestasi dari BKP3 2010, serta peringkat  II Penerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat DIY tahun 2013 kategori Pelopor.

Mbah Lasiyo juga tampil dalam program televisi swasta “Hitam Putih”, Rabu (31/08) malam. Dalam acara tersebut, beliau menceritakan mengapa menggeluti tanaman pisang. Dalam filosofi Jawa, pisang itu diambil dari kalimat pitedahe gesang (petunjuk hidup), menurut beliau jika orang mau menangani pisang maka akan mendapat petunjuk hidup, karena pisang merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat dikonsumsi bahkan sejak bayi. (PM/berbagai sumber)